Bagai menapak di Sahara,
Angin panas memenuhi raga,
Kujatuhkan kearah manapun mata ini,
Berharap telaga kehidupan,
Letih….
Luas….
Sepi….
Dan tak berujung,

Ratusan bahkan ribuan langkah telah ditempuh,
Sedang sinarnya yang terik terus membakar,
Kering sampai kehati,
Aku tak mampu lagi,
Apakah benar telaga kehidupan itu ada?
Mana? dimana dia?

Kutengadahkan wajah ke langit,
Dengan segala sisa,
Hingga mata ini tertutup,
Untuk waktu yang lama…
Menunggu kehidupan kedua,

Aku terbangun dari tidur panjang,
Aku tengah berapa di hamparan gurun yang luas sangat,
Bukan hanya aku, disini banyak orang,
Aku terheran,
Ada yang terlihat segar dan ada yang keletihan,
Kenapa engkau terlihat segar?
Karena aku telah menemukan iman sebagai telaga kehidupan di kehidupan pertamaku…